Tahu Sama Tahu – Ernesto Che Guevara – Revolusioner No. 1
Mungkin ini salah satu sosok paling dikenal di seantero jagat. Kalau tidak namanya, setidaknya mukanya. Kendati bisa jadi tak banyak yang betul-betul tahu siapa dia. Che Guevara. Gambarnya gampang sekali ditemukan di manapun juga. Bahkan sampai ke pelosok antah berantah.
Yang paling dikenal dunia tentu sosok yang mengenakan baret berhiaskan bintang dengan pandangan tajam jauh ke depan. Foto karya Alberto Diaz Gutierrez ini bahkan mencatat rekor dunia sebagai foto yang paling banyak dicetak ulang, dan paling banyak diolah ke dalam berbagai bentuk tampilan visual lain. Termasuk di kaos-kaos dan di poster-poster. Gambar lain yang juga sangat terkenal adalah muka brewok dengan senyum seulas dan cerutu di bibir atau dijepit jari tangan. Revolusioner nomor wahid itu menjadi legenda bahkan di budaya pop. Dunia yang sebetulnya tak ada hubungannya sama sekali dengan gerilyawan ini.
Felix Rodriguez, agen badan rahasia Amerika yang diterjunkan membantu tentara Bolivia memburu Che Guevara berceritera tentang penangkapan Che:
“Pada 7 Oktober 1967 itu, unit intelejen kami memperoleh informasi dari para petani mengenai terdengarnya suara dari sebuah kawasan yang sebetulnya tak berpenghuni. Lalu kami beritahukan kepada perwira Bolivia yang memimpin pasukan, yang lalu mengepung daerah itu dengan satuan berkekuatan 200 prajurit. Dan pagi buta tanggal 8 Oktober, satuan kami menyergap kaum gerilya itu.”
Tentara Bolivia dan CIA memang mendapat bantuan kaum petani. Karena para waktu itu Che Guevara belum berhasil menggalang kepercayaan petani yang hidupnya ia bela dan perjuangkan. Salah satunya karena Ceh Guevara adalah orang asing: orang Argentinya yang menggerakan revolusi Kuba. Ini memang sebuah ironi besar dalam riwayat Che Guevara.
Seorang pengikut Che Guevara menggambarkan situasi menjelang penyergapan:
“Saat itu gerilyawan yang tersisa tinggal cuma 22 orang saja. Dan ia melihat tentara terus bergerak mendekat dan menutup semua celah untuk meloloskan diri. Tapi Che bersikukuh untuk terus bergerak maju. Tanpa tahu dengan jelas mengarah ke mana, juga tanpa memberikan petunjuk jelas kepada gerilyawan lain. Tidak juga memerintahkan untuk berpencar. Ia terus melanjutkan perjalanan. Tahu apa sebabnya? Saya kira karena memang ia tak tahu mesti kemana lagi. Karena kami memang sudah terjepit.”
Dan begitulah, tentara Bolivia berhasil menyergap Che dan kawan-kawan. Kembali Felix Rodriguez, agen CIA yang berperan besar dalam perburuan Che Guevara:
Saat itu Che Guevara sudah menderita luka pada kaki kanannya. Dan ketika berhadapan dengan unit militer kami yang menyergapnya, ia berseru :”Jangan tembak. Saya Che Guevara. Saya lebih berharga bagi kalian dalam keadaan hidup ketimbang mati”.
Felix Rodriguez menggambarkan pula bagaimana berantakannya penampilan Che Guevara waktu itu, akibat perjalanan berat dan kelaparan dalam bergerilya.
“Waktu pertama kali saya melihatnya, ia dibalut pakaian compang-camping. Padahal gambaran saya tentang dia adalah tokoh yang mengunjungi Moskow, bertemu Mao Zedong di Cina. Sosok manusia arogan dengan pakaian gerilyanya. Dan sekarang dia lebih tampak sebagai seorang gembel.”
Kesan Felix Rodriguez tentu dipengaruhi kenyataan, bahwa ia adalah agen CIA yang memburu dan memandang Che Guevara sebagai musuh. Berbeda dengan cara pandang pengikut atau setidaknya pengagum Che Guevara. Seperti Julia Cortez, perempuan yang diperkirakan merupakan orang terakhir yang melihat Che dalam keadaan hidup saat itu –di luar para pemburunya.
“Ya. Dia mukanya berantakan,dan kesehatannya sangat buruk. Pakaiannya lusuh dan dia sangat kurus. Sakit hati saya melihat dia dalam keadaan begitu. Tapi tetap saja jelas bahwa dia adalah Che Guevara. Kharismanya tetap muncul dan matanya yang tetap tajam. Dia kan memang seorang yang ganteng dan penuh daya tarik..”
Ernesto Guevara de la Serna, demikianlah nama aslinya, lahir 14 Juni 1928 di Rosario, Argentina. Sebetulnya ia seorang dokter. Namun perjalanan keliling 5 negara Amerika Latin ketika ia baru lulus Fakultas Kedokteran Universitas Buenos Aires mengubah segalanya. Dalam perjalanan yang dilakukan bersama sahabat karibnya, Alberto Granado dengan menggunakan sepeda motor La Poderosa pada tahun 1952, ia banyak berhadapan dengan sejumlah gejala yang mengguncangkan perasaannya. Yakni kemiskinan dan penderitaan rakyat tertindas.
Ia pun sampai pada kesimpulan, bahwa hanya ada satu jalan untuk membebaskan rakyat miskin dan mengangkat martabat mereka. Yakni perjuangan bersenjata. Jalan revolusioner.
Bukan kebetulan, ia bertemu Fidel Castro di Meksiko. Che Guevara kemudian bergabung dalam gerilya untuk menjatuhkan diktator dukungan Amerika, Flugencio Batista. Revolusi mereka mencatat sukses. Batista terguling tahun 1959. Castrio jadi penguasa Kuba, dan Guevara, kendati orang Argentina, diangkat sebagai kepala Bank Sentral, lalu Menteri Perindustrian.
Tak lama, Che Guevara lenyap. Pada tahun 1965 Castro mengumumkan bahwa Guevara telah mengundurkan diri dan meninggalkan Kuba. Desas-desus menyebut,peristiwa itu disebabkan munculnya ketidak-cocokan antara kedua tokoh revolusioner ini. Guevara kemudian masuk Bolivia bersama 15 pengikutnya, untuk menciptakan revolusi merah di seantero Amerika Selatan.
Seorang pelayan Restoran Elis di daerah Perado, pusat kota La Paz, tak pernah melupakan hari-hari 40 tahunan lalu. Saat itu Max baru berumur 12 tahun, yatim piatu, dan ditugaskan menjadi kasir. Dan Che Guevara bersama beberapa puluh pengikutnya sering datang ke restorannya, dengan menyamar, dan menjadai pelanggan tetap. Seperti terlihat dari kliping-klipin koran yang ditempel di tembok-tembok restoran itu, Max mendapat julukan sebagai El Amigo de Che, alias Karib Che. Che Guevara lah yang mengajarkan baca tulis pada Max. Kata Max:
“Che Guevara cita-cita dan ideologinya jelas. Dia ingin mengangkat derajat orang-orang miskin dan kaum tak mampu, agar bisa hidup tenang. Tapi sayangnya kita orang-orang Bolivia tak begitu menghiraukan cita-cita dia yang begitu indah itu. Tak heran kalau sampai sekarang hidup kita miskin begini. Pemerintah tak berbuat apa-apa, bahkan terus menerus membohongi kita, dan dengan berbagai cara mengekspolitasi kita. Seandainya saja Che Guevara masih hidup, saya yakin perubahan di Bolivia sudah menjadi kenyataan.”
Harapan Max meleset jauh dari kenyataan. Karena pada waktu itu, Che tidak mendapat dukungan di Bolivia. Bahkan tidak dari Partai Komunis Bolivia. Malah banayak elemen revolusioner yang mengkhianatinya. Akhirnya, Che Guevara bersama para gerilyawannya yang sangat terbatas jumlahnya seakan terperangkap di hutan-hutan Bolivia, dalam kelaparan dan persenjataan minim. Dan tertangkap pada 8 Oktober 1967 itu. Lalu dibawa ke kota kecil La Higuera, dan ditahan di sebuah rumah binatu, hingga dibunuh keesokan harinya.
Felix Rodriguez sang agen CIA yang membantu perburuan Che Guevara mengungkapkan, perintah membunuh Che Guevara dartang dari panglima militer Bolivia. Felix Rodriguez mendapat pesan radio dengan kode 500-600, yang berarti Che Guevara mati. Lalu menyampaikannya pada perwira Bolivia di lapangan. Seterusnya, kata Felix Rodriguez:
“Lalu saya masuk ke ruangan tempat Che ditahan. Lantas saya bilang, komandan Guevara, saya minta maaf. Saya sudah berusaha sebisanya. Namun ini perintah dari komando tertinggi Bolivia. Mukanya berubah jadi pucat bagiakan kertas. Dan para pengikutnya tampak depresi. Namun dia sepenuhnya mengerti. Lalu dia bilang, “Memang lebih baik begitu. Seharusnya saya tidak pernah tertangkap hidup-hidup”.
Sekitar sejam kemudian, Che Guevara ditembak.
Mayat Che Guevara dibaringkan di meja kerja rumah binatu itu. Kepalanya disangga sebatang kayu. Para perwira militer Bolivia berdiri di sekitarnya. Dan dilakukan pemotretan. Foto itu disebarkan ke seluruh dunia untuk membuktikan bahwa Che Guevara benar-benar sudah mati. Karena sebelumnya deasas-desus kematian Che berulang kali muncul, dan selalu terbukti salah. Kali ini bahkan tentara Bolivia memotong tangan Che Guevara, agar sidik jarinya selalu bisa digunakan untuk membuktikan kematian Che, jika Kuba atau kaum revolusioner membantah.
Kini, rumah binatu itu jadi salah satu lokasi kunjungan wisatawan yang napak tilas perjalanan hidup terakhir Che Guevara. Diungkap Manolo, seorang pemandu wisata:
“Kebanyakan turis datang ke sini utnuk melihat binatu yang ada di foto Che, waktu Che dibaringkan di binatu itu. Kepalanya menghadap sini. Orang-orang jalan mengelilinginya. Dan mereka bikin-bikin grafiti untuk menuliskan bahwa mereka pernah datang. Dan itu tak akan pernah dihilangkan. “
Beberapa saat setelah pemotretan dan pemotongan tangannya, sebuah helikopter membawa jenazah Che ke Vallegrande, 80 kilometer dari La Higuera. Di sana Che dikubur bersama banyak mayat lain di sebuah pekuburan masal. Sesudah itu keberadaan jenazahnya tidak pernah diungkap. Sampai tahun 1997. Sesudah Jon Lee Anderson, yang menulis biografi Che, memperoleh informasi mengenai hal itu. Tulang belulang Che Guevara kemudian diidentifikasi, lalu dipindahkan ke Kuba.
Selama 30 tahun pemerintah Bolivia menyembunyikan keberadaan jenazah Che, untuk mencegah dimitoskannya tokoh itu. Namun mereka gagal. Tanpa kuburanpun Che menjadi salah satu legenda paling populer dalam sejarah umat manusia. Dengan segala pro-kontranya.
Yang paling dikenal dunia tentu sosok yang mengenakan baret berhiaskan bintang dengan pandangan tajam jauh ke depan. Foto karya Alberto Diaz Gutierrez ini bahkan mencatat rekor dunia sebagai foto yang paling banyak dicetak ulang, dan paling banyak diolah ke dalam berbagai bentuk tampilan visual lain. Termasuk di kaos-kaos dan di poster-poster. Gambar lain yang juga sangat terkenal adalah muka brewok dengan senyum seulas dan cerutu di bibir atau dijepit jari tangan. Revolusioner nomor wahid itu menjadi legenda bahkan di budaya pop. Dunia yang sebetulnya tak ada hubungannya sama sekali dengan gerilyawan ini.
Felix Rodriguez, agen badan rahasia Amerika yang diterjunkan membantu tentara Bolivia memburu Che Guevara berceritera tentang penangkapan Che:
“Pada 7 Oktober 1967 itu, unit intelejen kami memperoleh informasi dari para petani mengenai terdengarnya suara dari sebuah kawasan yang sebetulnya tak berpenghuni. Lalu kami beritahukan kepada perwira Bolivia yang memimpin pasukan, yang lalu mengepung daerah itu dengan satuan berkekuatan 200 prajurit. Dan pagi buta tanggal 8 Oktober, satuan kami menyergap kaum gerilya itu.”
Tentara Bolivia dan CIA memang mendapat bantuan kaum petani. Karena para waktu itu Che Guevara belum berhasil menggalang kepercayaan petani yang hidupnya ia bela dan perjuangkan. Salah satunya karena Ceh Guevara adalah orang asing: orang Argentinya yang menggerakan revolusi Kuba. Ini memang sebuah ironi besar dalam riwayat Che Guevara.
Seorang pengikut Che Guevara menggambarkan situasi menjelang penyergapan:
“Saat itu gerilyawan yang tersisa tinggal cuma 22 orang saja. Dan ia melihat tentara terus bergerak mendekat dan menutup semua celah untuk meloloskan diri. Tapi Che bersikukuh untuk terus bergerak maju. Tanpa tahu dengan jelas mengarah ke mana, juga tanpa memberikan petunjuk jelas kepada gerilyawan lain. Tidak juga memerintahkan untuk berpencar. Ia terus melanjutkan perjalanan. Tahu apa sebabnya? Saya kira karena memang ia tak tahu mesti kemana lagi. Karena kami memang sudah terjepit.”
Dan begitulah, tentara Bolivia berhasil menyergap Che dan kawan-kawan. Kembali Felix Rodriguez, agen CIA yang berperan besar dalam perburuan Che Guevara:
Saat itu Che Guevara sudah menderita luka pada kaki kanannya. Dan ketika berhadapan dengan unit militer kami yang menyergapnya, ia berseru :”Jangan tembak. Saya Che Guevara. Saya lebih berharga bagi kalian dalam keadaan hidup ketimbang mati”.
Felix Rodriguez menggambarkan pula bagaimana berantakannya penampilan Che Guevara waktu itu, akibat perjalanan berat dan kelaparan dalam bergerilya.
“Waktu pertama kali saya melihatnya, ia dibalut pakaian compang-camping. Padahal gambaran saya tentang dia adalah tokoh yang mengunjungi Moskow, bertemu Mao Zedong di Cina. Sosok manusia arogan dengan pakaian gerilyanya. Dan sekarang dia lebih tampak sebagai seorang gembel.”
Kesan Felix Rodriguez tentu dipengaruhi kenyataan, bahwa ia adalah agen CIA yang memburu dan memandang Che Guevara sebagai musuh. Berbeda dengan cara pandang pengikut atau setidaknya pengagum Che Guevara. Seperti Julia Cortez, perempuan yang diperkirakan merupakan orang terakhir yang melihat Che dalam keadaan hidup saat itu –di luar para pemburunya.
“Ya. Dia mukanya berantakan,dan kesehatannya sangat buruk. Pakaiannya lusuh dan dia sangat kurus. Sakit hati saya melihat dia dalam keadaan begitu. Tapi tetap saja jelas bahwa dia adalah Che Guevara. Kharismanya tetap muncul dan matanya yang tetap tajam. Dia kan memang seorang yang ganteng dan penuh daya tarik..”
Ernesto Guevara de la Serna, demikianlah nama aslinya, lahir 14 Juni 1928 di Rosario, Argentina. Sebetulnya ia seorang dokter. Namun perjalanan keliling 5 negara Amerika Latin ketika ia baru lulus Fakultas Kedokteran Universitas Buenos Aires mengubah segalanya. Dalam perjalanan yang dilakukan bersama sahabat karibnya, Alberto Granado dengan menggunakan sepeda motor La Poderosa pada tahun 1952, ia banyak berhadapan dengan sejumlah gejala yang mengguncangkan perasaannya. Yakni kemiskinan dan penderitaan rakyat tertindas.
Ia pun sampai pada kesimpulan, bahwa hanya ada satu jalan untuk membebaskan rakyat miskin dan mengangkat martabat mereka. Yakni perjuangan bersenjata. Jalan revolusioner.
Bukan kebetulan, ia bertemu Fidel Castro di Meksiko. Che Guevara kemudian bergabung dalam gerilya untuk menjatuhkan diktator dukungan Amerika, Flugencio Batista. Revolusi mereka mencatat sukses. Batista terguling tahun 1959. Castrio jadi penguasa Kuba, dan Guevara, kendati orang Argentina, diangkat sebagai kepala Bank Sentral, lalu Menteri Perindustrian.
Tak lama, Che Guevara lenyap. Pada tahun 1965 Castro mengumumkan bahwa Guevara telah mengundurkan diri dan meninggalkan Kuba. Desas-desus menyebut,peristiwa itu disebabkan munculnya ketidak-cocokan antara kedua tokoh revolusioner ini. Guevara kemudian masuk Bolivia bersama 15 pengikutnya, untuk menciptakan revolusi merah di seantero Amerika Selatan.
Seorang pelayan Restoran Elis di daerah Perado, pusat kota La Paz, tak pernah melupakan hari-hari 40 tahunan lalu. Saat itu Max baru berumur 12 tahun, yatim piatu, dan ditugaskan menjadi kasir. Dan Che Guevara bersama beberapa puluh pengikutnya sering datang ke restorannya, dengan menyamar, dan menjadai pelanggan tetap. Seperti terlihat dari kliping-klipin koran yang ditempel di tembok-tembok restoran itu, Max mendapat julukan sebagai El Amigo de Che, alias Karib Che. Che Guevara lah yang mengajarkan baca tulis pada Max. Kata Max:
“Che Guevara cita-cita dan ideologinya jelas. Dia ingin mengangkat derajat orang-orang miskin dan kaum tak mampu, agar bisa hidup tenang. Tapi sayangnya kita orang-orang Bolivia tak begitu menghiraukan cita-cita dia yang begitu indah itu. Tak heran kalau sampai sekarang hidup kita miskin begini. Pemerintah tak berbuat apa-apa, bahkan terus menerus membohongi kita, dan dengan berbagai cara mengekspolitasi kita. Seandainya saja Che Guevara masih hidup, saya yakin perubahan di Bolivia sudah menjadi kenyataan.”
Harapan Max meleset jauh dari kenyataan. Karena pada waktu itu, Che tidak mendapat dukungan di Bolivia. Bahkan tidak dari Partai Komunis Bolivia. Malah banayak elemen revolusioner yang mengkhianatinya. Akhirnya, Che Guevara bersama para gerilyawannya yang sangat terbatas jumlahnya seakan terperangkap di hutan-hutan Bolivia, dalam kelaparan dan persenjataan minim. Dan tertangkap pada 8 Oktober 1967 itu. Lalu dibawa ke kota kecil La Higuera, dan ditahan di sebuah rumah binatu, hingga dibunuh keesokan harinya.
Felix Rodriguez sang agen CIA yang membantu perburuan Che Guevara mengungkapkan, perintah membunuh Che Guevara dartang dari panglima militer Bolivia. Felix Rodriguez mendapat pesan radio dengan kode 500-600, yang berarti Che Guevara mati. Lalu menyampaikannya pada perwira Bolivia di lapangan. Seterusnya, kata Felix Rodriguez:
“Lalu saya masuk ke ruangan tempat Che ditahan. Lantas saya bilang, komandan Guevara, saya minta maaf. Saya sudah berusaha sebisanya. Namun ini perintah dari komando tertinggi Bolivia. Mukanya berubah jadi pucat bagiakan kertas. Dan para pengikutnya tampak depresi. Namun dia sepenuhnya mengerti. Lalu dia bilang, “Memang lebih baik begitu. Seharusnya saya tidak pernah tertangkap hidup-hidup”.
Sekitar sejam kemudian, Che Guevara ditembak.
Mayat Che Guevara dibaringkan di meja kerja rumah binatu itu. Kepalanya disangga sebatang kayu. Para perwira militer Bolivia berdiri di sekitarnya. Dan dilakukan pemotretan. Foto itu disebarkan ke seluruh dunia untuk membuktikan bahwa Che Guevara benar-benar sudah mati. Karena sebelumnya deasas-desus kematian Che berulang kali muncul, dan selalu terbukti salah. Kali ini bahkan tentara Bolivia memotong tangan Che Guevara, agar sidik jarinya selalu bisa digunakan untuk membuktikan kematian Che, jika Kuba atau kaum revolusioner membantah.
Kini, rumah binatu itu jadi salah satu lokasi kunjungan wisatawan yang napak tilas perjalanan hidup terakhir Che Guevara. Diungkap Manolo, seorang pemandu wisata:
“Kebanyakan turis datang ke sini utnuk melihat binatu yang ada di foto Che, waktu Che dibaringkan di binatu itu. Kepalanya menghadap sini. Orang-orang jalan mengelilinginya. Dan mereka bikin-bikin grafiti untuk menuliskan bahwa mereka pernah datang. Dan itu tak akan pernah dihilangkan. “
Beberapa saat setelah pemotretan dan pemotongan tangannya, sebuah helikopter membawa jenazah Che ke Vallegrande, 80 kilometer dari La Higuera. Di sana Che dikubur bersama banyak mayat lain di sebuah pekuburan masal. Sesudah itu keberadaan jenazahnya tidak pernah diungkap. Sampai tahun 1997. Sesudah Jon Lee Anderson, yang menulis biografi Che, memperoleh informasi mengenai hal itu. Tulang belulang Che Guevara kemudian diidentifikasi, lalu dipindahkan ke Kuba.
Selama 30 tahun pemerintah Bolivia menyembunyikan keberadaan jenazah Che, untuk mencegah dimitoskannya tokoh itu. Namun mereka gagal. Tanpa kuburanpun Che menjadi salah satu legenda paling populer dalam sejarah umat manusia. Dengan segala pro-kontranya.
Tahu Sama Tahu – Ernesto Che Guevara – Icon Revolusi
Apa boleh buat, Che Guevara telah menjadi tokoh legendaris abad XX. Dia jadi ikon revolusi yang potretnya melekat di kaos oblong, poster, pin, dan aksesori lainnya. Kalimat “Hasta la victoria siempre!” yang ditulisnya kepada Castro saat meninggalkan Kuba telah menjadi salam heroik anak-anak muda.
Sementara, kisah-kisah revolusionernya saat bergerilya banyak dibukukan. Di Indonesia sendiri, setidaknya ada empat buku tentang Che dengan gambar sampul sama dan isi yang hampir tidak berbeda beredar hampir serentak di pasaran, yakni Revolusi Rakyat Che Guevara (Teplok Press), Che Guevara Sang Revolusioner (Insist Press), dan dua buku yang dicetak Yayasan Litera Indonesia dengan judul Sikap Politik Che dan Catatan Revolusioner Che. Tentulah Anda para penggemar buku perlu memilih buku-buku mana yang tepat dengan kebutuhan dan keinginan Anda.
Che dilahirkan secara prematur di Rosario pada 14 Juni 1928. Sang ayah kemudian memberi nama yang sama dengan dirinya, Ernesto Guevara. Nenek moyang Che dari garis ayah adalah Juan Antonio Guevara. Sedangkan ayahnya adalah keturunan Vieroy Liniers, bangsawan Argentina awal yang berperang melawan diktator Juan Manuel Ramos, tapi gagal dan melarikan diri di pengasingan sekitar tahun 1850 dan berakhir di California.
Sama dengan ayahnya, ibu Che, Celia de la Serna, juga keturunan bangsawan. Che adalah anak sulung dari lima bersaudara. Adik-adiknya yang lain adalah Celia (lahir 1930), Roberto (lahir 1931), Anna Maria (lahir 1932), dan si bungsu Juan Martin (lahir 1941).Pada usia empat tahun Che diboyong keluarganya ke Kordoba dan tinggal di kota Alta Gracia. Di sinilah Che menghabiskan masa kecilnya. Tapi, tidak seperti kebanyakan anak pada umumnya, Che tidak bisa mengikuti sekolah dasarnya hingga ia berusia tujuh tahun. Penyakit asma yang dideritanya memaksa Che untuk tinggal di rumah. Baru pada tahun-tahun berikutnya Che bisa mengikuti pelajaran di sekolah. Di sinilah, pada usia 11 tahun, debut politiknya tampak dengan mengorganisir kawan-kawannya untuk menyerang setiap lampu tunggal di seluruh kota dengan ketapel. Saat itu para pekerja lampu melakukan pemogokan di seluruh provinsi dan sebuah perusahaan berupaya menyewa orang untuk menghentikannya.
Setelah menyelesaikan sekolah dasarnya, Che pindah ke Kordoba, ibu kota provinsi dengan nama yang sama. Tepatnya pada tahun 1943. Di kota inilah Che melanjutkan sekolahnya dengan biaya sendiri. Maklum, pada saat bersamaan orang tuanya mengalami kebangkrutan usaha. Tapi, Che merampungkan sekolahnya dengan baik. Pada masa ini aktivitas Che di dalam politik semakin tinggi. Lelaki itu lalu memutuskan bergabung dalam Civico Revolucionario Monteagudo, kelompok anak muda nasionalis yang akhirnya lebih banyak menentang diktator Juan Peron dalam aksi-aksi jalanan ketimbang larut dalam perdebatan-perdebatan politis.
Pada usia 19 tahun, Che melanjutkan sekolahnya ke University of Buenos Aires sebagai mahasiswa paramedis. Menjadi mahasiswa ternyata belum juga mengubah nasib Che. Ia tetap saja harus bekerja untuk biaya kuliahnya. Menjadi penjaga malam, wartawan untuk mingguan ultranasionalis Accion Argentina, dan juru tulis untuk sebuah perusahaan konstruksi.
Pada bulan Maret 1953, Che berhasil menyelesaikan kuliahnya dan mendapatkan gelar Medical Doctor-nya. Tapi, tidak seperti laiknya dokter, Che sama sekali tidak membuka praktik atau pun bekerja di rumah sakit. Che justru pergi dan melakukan perjalanan kembali seperti pernah dilakukan sebelumnya.
Perjalanan inilah yang di kemudian hari mempertemukan Che dengan Fidel Castro. Tepatnya, pada musim panas 1955 di Meksiko, saat Fidel masih dalam pengasingan. Keterlibatan Che dalam revolusi Kuba dimulai. Che menjadi dokter, meski sejak semula menolak dan menganggap dirinya sebagai pejuang. Memang dalam perjalanan selanjutnya keterlibatan Che bukan hanya sebatas mengobati dan merawat prajurit Castro yang terluka, tapi juga memanggul dan memberondongkan peluru ke pasukan musuh.
Peran Che yang demikian ini telah membawanya ke karier militer pasukan Castro dengan cepat. Setelah tiga tahun bergabung, Che sudah menjadi comandante (mayor, pangkat tertinggi dalam pasukan itu). Sampai kemudian Che memberikan kemenangan terhormat bagi rakyat Kuba pada 4 Januari 1959. Che selanjutnya bukan lagi sebagai warga Argentina, tapi jadi warga negara Kuba yang disahkan oleh Dewan Menteri Kuba pada 9 Januari 1959, dan sekaligus menjadikan “Che” yang dalam bahasa Argentina berarti “Bung” atau “Kawan Baik” sebagai nama depannya.
Che akhirnya menemui ajalnya dalam sebuah pertempuran di Bolivia, setelah sebelumnya dia mencurahkan perhatiannya untuk kemajuan Kuba dengan menjabat sebagai Direktur Bank Nasional, Ketua Departemen Perindustrian, selain tentunya menjadi delegasi Kuba dalam berbagai forum internasional.
Sementara, kisah-kisah revolusionernya saat bergerilya banyak dibukukan. Di Indonesia sendiri, setidaknya ada empat buku tentang Che dengan gambar sampul sama dan isi yang hampir tidak berbeda beredar hampir serentak di pasaran, yakni Revolusi Rakyat Che Guevara (Teplok Press), Che Guevara Sang Revolusioner (Insist Press), dan dua buku yang dicetak Yayasan Litera Indonesia dengan judul Sikap Politik Che dan Catatan Revolusioner Che. Tentulah Anda para penggemar buku perlu memilih buku-buku mana yang tepat dengan kebutuhan dan keinginan Anda.
Che dilahirkan secara prematur di Rosario pada 14 Juni 1928. Sang ayah kemudian memberi nama yang sama dengan dirinya, Ernesto Guevara. Nenek moyang Che dari garis ayah adalah Juan Antonio Guevara. Sedangkan ayahnya adalah keturunan Vieroy Liniers, bangsawan Argentina awal yang berperang melawan diktator Juan Manuel Ramos, tapi gagal dan melarikan diri di pengasingan sekitar tahun 1850 dan berakhir di California.
Sama dengan ayahnya, ibu Che, Celia de la Serna, juga keturunan bangsawan. Che adalah anak sulung dari lima bersaudara. Adik-adiknya yang lain adalah Celia (lahir 1930), Roberto (lahir 1931), Anna Maria (lahir 1932), dan si bungsu Juan Martin (lahir 1941).Pada usia empat tahun Che diboyong keluarganya ke Kordoba dan tinggal di kota Alta Gracia. Di sinilah Che menghabiskan masa kecilnya. Tapi, tidak seperti kebanyakan anak pada umumnya, Che tidak bisa mengikuti sekolah dasarnya hingga ia berusia tujuh tahun. Penyakit asma yang dideritanya memaksa Che untuk tinggal di rumah. Baru pada tahun-tahun berikutnya Che bisa mengikuti pelajaran di sekolah. Di sinilah, pada usia 11 tahun, debut politiknya tampak dengan mengorganisir kawan-kawannya untuk menyerang setiap lampu tunggal di seluruh kota dengan ketapel. Saat itu para pekerja lampu melakukan pemogokan di seluruh provinsi dan sebuah perusahaan berupaya menyewa orang untuk menghentikannya.
Setelah menyelesaikan sekolah dasarnya, Che pindah ke Kordoba, ibu kota provinsi dengan nama yang sama. Tepatnya pada tahun 1943. Di kota inilah Che melanjutkan sekolahnya dengan biaya sendiri. Maklum, pada saat bersamaan orang tuanya mengalami kebangkrutan usaha. Tapi, Che merampungkan sekolahnya dengan baik. Pada masa ini aktivitas Che di dalam politik semakin tinggi. Lelaki itu lalu memutuskan bergabung dalam Civico Revolucionario Monteagudo, kelompok anak muda nasionalis yang akhirnya lebih banyak menentang diktator Juan Peron dalam aksi-aksi jalanan ketimbang larut dalam perdebatan-perdebatan politis.
Pada usia 19 tahun, Che melanjutkan sekolahnya ke University of Buenos Aires sebagai mahasiswa paramedis. Menjadi mahasiswa ternyata belum juga mengubah nasib Che. Ia tetap saja harus bekerja untuk biaya kuliahnya. Menjadi penjaga malam, wartawan untuk mingguan ultranasionalis Accion Argentina, dan juru tulis untuk sebuah perusahaan konstruksi.
Pada bulan Maret 1953, Che berhasil menyelesaikan kuliahnya dan mendapatkan gelar Medical Doctor-nya. Tapi, tidak seperti laiknya dokter, Che sama sekali tidak membuka praktik atau pun bekerja di rumah sakit. Che justru pergi dan melakukan perjalanan kembali seperti pernah dilakukan sebelumnya.
Perjalanan inilah yang di kemudian hari mempertemukan Che dengan Fidel Castro. Tepatnya, pada musim panas 1955 di Meksiko, saat Fidel masih dalam pengasingan. Keterlibatan Che dalam revolusi Kuba dimulai. Che menjadi dokter, meski sejak semula menolak dan menganggap dirinya sebagai pejuang. Memang dalam perjalanan selanjutnya keterlibatan Che bukan hanya sebatas mengobati dan merawat prajurit Castro yang terluka, tapi juga memanggul dan memberondongkan peluru ke pasukan musuh.
Peran Che yang demikian ini telah membawanya ke karier militer pasukan Castro dengan cepat. Setelah tiga tahun bergabung, Che sudah menjadi comandante (mayor, pangkat tertinggi dalam pasukan itu). Sampai kemudian Che memberikan kemenangan terhormat bagi rakyat Kuba pada 4 Januari 1959. Che selanjutnya bukan lagi sebagai warga Argentina, tapi jadi warga negara Kuba yang disahkan oleh Dewan Menteri Kuba pada 9 Januari 1959, dan sekaligus menjadikan “Che” yang dalam bahasa Argentina berarti “Bung” atau “Kawan Baik” sebagai nama depannya.
Che akhirnya menemui ajalnya dalam sebuah pertempuran di Bolivia, setelah sebelumnya dia mencurahkan perhatiannya untuk kemajuan Kuba dengan menjabat sebagai Direktur Bank Nasional, Ketua Departemen Perindustrian, selain tentunya menjadi delegasi Kuba dalam berbagai forum internasional.









































