Ebook Edensor dan Sang Pemimpi Andrea Hirata
Aku sendiri karena penasaran dengan Laskar Pelangi memutuskan untuk meminjam (menyewa) bukunya di salah satu tempat penyewaan buku di Kota Medan. Tidak hanya Laskar Pelangi, aku juga menyewa Edensor dan Sang Pemimpi. Abis kalau beli terlalu mahal (anak kost bo…) lagi pula kan sudah sempat tahu lebih dari setengah ceritanya :) So… menyewa bukunya adalah solusinya bagiku :)
Kebetulan barusan ada yang email aku dan minta ebook Edensor dan Sang Pemimpi Andrea Hirata. Email seperti ini sudah yang kesekian kalinya (ampe lupa…, yang jelas dah lebih dari 5 kali). Nah dari pada sibuk email2an terus, mendingan aku posting aja link download Ebook Edensor dan Ebook Sang Pemimpinya Andrea Hirata. Linknya ada dibawah ini:
Edensor 1
Edensor 2
Sang Pemimpi 1
Sang Pemimpi 2
Sang Pemimpi 3
Ebook Detik-Detik Yang Menentukan by B.J. Habibie
Kalau mau tau sejarah yang terjadi di Istana Negara ketika masa reformasi terjadi maka kamu harus membaca buku ini. Kalo aku ga salah di Gramedia harga buku cetaknya sekitar Rp. 150.000,- Wah… mahal banget yah :)
Komentar para tokoh tentang buku ini:
Mengingat bahwa buku ini ditulis berdasarkan catatan harian beliau dan komentar berbagai surat kabar nasional pada masa itu maka buku ini seolah-olah merupakan rekaman ulang sebuah realitas politik yang amat mencekam saat itu. Meskipun demikian sisi-sisi kelembutan, di tengah-tengah ketegasan sikapnya, seorang anak bangsa yang bernama B.J. Habibie sangat jelas tergambarkan pula di dalam buku ini. (Hermawan K. Dipojono)
Tokoh yang dengan reformasi berubah dari wakil presiden menjadi presiden dan kemudian meninggalkan kursi kepresidenannya dengan bibir yang tersenyum dan kepala yang tegak. Semua berlaku dengan konstitusional, damai, tanpa setetes darahpun yang tertumpahkan, dan kemudian membuka pintu lebar-lebar untuk para pemimpin penerusnya agar dapat mengisi momentum-momentum yang hadir dengan lebih sukses. (Hidayat Nur Wahid)
Banyak hal yang sangat menarik dari buku B.J. Habibie “Detik-Detik yang Menentukan”, banyak juga yang menarik dari kepribadian penulisnya, setelah membaca buku itu. Namun demikian tidak meleset jika disimpulkan bahwa: “Buku dan penulisnya menyatu dalam kata “Demokrasi”. Itulah uraian buku ini dan itu pula kunci kepribadian penulisnya yang taat beragama Islam itu. Dengan demikian terbukti bahwa tidak ada pertentangan sedikit pun antara penegakan demokrasi dan pelaksanaan ajaran Islam. (M. Quraish Shihab)
As those move further into the past, the scale and scope of Habibie’s achievement seems ever more astounding and surprising. How was it that an administrative technologist with weak political skills and almost no political support could change Indonesia so rapidly, decisively and fundamentally, and in ways that no one could have expected? (Robert.E. Elson)
Kesalahfahaman seolah-olah Presiden Habibie menciptakan “bom waktu disintegrasi” melalui kebijakan desentralisasinya adalah sesuatu yang berangkat dari argumen yang keliru dan tidak berdasar. (Ryaas Rasyid)
Whether one believes in the ‘Great Man’ or ‘Great Idea’ concept of leadership, Pak Habibie succeeded, within the shortest time possible, in mobilizing every resource that was available, to launch a ‘new Indonesia’. (Bilveer Singh)
Download Ebook The 8th Habit: Melampaui Efektivitas, Menggapai Keagungan
DENGARKAN SUARA-SUARA BERIKUT:
“Aku terperangkap dalam rutinitas yang menjemukan!”
“Aku tak punya kehidupan. Tenagaku habis—capek sekali!”
“Tak seorang pun menghargaiku. Bosku tak tabu apa sesungguhnya yang bisa kuperbuat!”
“Aku merasa tak diperlukan—di tempat kerja, tidak; oleh anak-anakku yang mulai remaja dan dewasa pun tidak; tak juga oleh tetangga dan masyarakat sekitarku; bahkan tak juga oleh pasangan hidupku—kecuali untuk membayar berbagai tagihan!”
“Aku frustrasi dan loyo, tak bersemangat.”
“Penghasilanku tak pernah cukup. Rasanya aku tidak pernah bergerak maju!”
“Sepertinya aku memang tak bisa.”
“Aku merasa tak berarti; ada atau tidak, rasanya tak ada bedanya bagi sekelilingku!”
“Aku merasa hampa. Hidupku tidak bermakna; ada sesuatu yang hilang!”
“Aku marah. Aku takut. Aku tak sanggup menanggung kehilangan pekerjaanku!”
“Aku kesepian.”
Kalimat diatas adalah Kalimat pembuka pada Buku The 8th Habit yang merupakan pengembangan dan penyempurnaan dari buku The 7th Habit. I highly recomended all of you to read the book. You can also download the ebook on the link below:











































