Taiwan Trips 1: Kagum akan Transportasi Publiknya…
Guys… Saat aku buat postingan ini, posisku sedang berada di sebuah kota yang bernama Hsinchu untuk belajar tentang Open Source dan kroni-kroninya… Lembaga tempat aku belajar adalah National Center for High-Performance Computing (NCHC) dan mentor yang membimbingku selama aku magang disana adalah Thomas Tsai, seorang linux geek yang telah mengembangkan beberapa software open source seperti Clonezilla, DRBL dan Partclone.
Oiya, Kota Hsinchu terletak disebuah negara kecil yang besar, Taiwan nama negaranya… Menurut wikipedia, negara kecil yang pada peta dunia berada di bagian Timur Asia ini hanya memiliki luasan wilayah sekitar 35,980 km2 atau tidak lebih besar dari Propinsi Maluku Utara yang memiliki area seluas 39,959 km2. Negara kecil ini secara de facto sudah diakui keberadaannya oleh dunia, walaupun secara de jure, mayoritas bangsa-bangsa di dunia hanya mengakui 1 China, yaitu Republik Rakyat China (PRC) atau juga dikenal dengan nama China Daratan. Taiwan sebenarnya memiliki nama resmi Republik of China (ROC), dan memiliki julukan Formosa yang dalam Bahasa Portugis artinya “Pula yang Indah”.
Meski dalam bentuk fisik Taiwan adalah negara yang kecil dan juga kecil dalam pergaulan internasional, tapi Taiwan bisa membuktikan bahwa mereka adalah bangsa yang besar. Menurut informasi yang bisa dipercaya, secara politis Taiwan diproteksi oleh Amerika, Jepang dan sekutu2nya. Itu sebabnya mereka tetap bisa mengakui eksistensinya sebagai bangsa walupun China tidak akan melepaskan Taiwan dan selalu mengklaim bahwa Taiwan adalah bagian dari China.
Namun dalam tulisan ini aku nggak akan membahas lebih jauh tentang masalah Open Source atau situasi dan kondisi politik Taiwan dan juga situasi dan kondisi politik global terhadap Taiwan. Tulisan ini lebih membahas tentang apa yang aku lihat, dengar dan rasakan langsung setelah berada lebih dari 1 minggu di Taiwan. Kagum… Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan dan mewakili perasaanku setelah aku berada di Taiwan.
Kagum akan Transportasi Publiknya…

Taiwan High Speed Rail (THSR) Station di Hsinchu

Taiwan High Speed Rail (THSR)
Dua gambar diatas, yaitu teknologi yang digunakan stasiun THSR dan wujud fisik kereta cepat THSR, hanya merupakan satu dari sekian teknologi transportasi yang mewakili alasan kekagumanku akan sebuah negeri mini yang bernama Taiwan ini. Selain THSR, Taiwan juga memiliki transportasi publik yang mendukung pergerakan orang dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat, yaitu MRT (Metro Rail Train). Berbeda dengan THSR, MRT adalah kendaraan underground atau bawah tanah yang sangat bersih… Peraturan di Taiwan memang melarang pengguna MRT untuk makan, minum dan merokok didalam sarana transportasi tersebut. Namun sayangnya aku belum sempat mengambil gambar MRT, karena beberapa hari yang lalu, ketika menggunakan transportasi ini, saat itu waktu sudah cukup malam dan rombongan kami sedang dalam kondisi kelelahan ;)
Selain THSR dan MRT masih ada lagi Kereta Api biasa sebagaimana yang lazim kita jumpai di Indonesia.
Lalu yang membuat aku makin kagum dengan transportasi publik di Taiwan, adalah tersedianya Bus-Bus gratis yang bisa digunakan siapa saja. Dua jenis bus gratis yang sudah beberapa kali aku gunakan adalah THSR shuttle bus dan Hsinchu Science Park shuttle bus… THSR shuttle bus biasanya aku gunakan dari dan ke stasiun THSR, sedangkan Science Park shuttle bus biasanya aku gunakan dari dan ke NCHC.

THSR Shuttle Bus
Sekedar informasi, Hsinchu Science Park juga dikenal sebagai Taiwan’s Silicon Valley. Sebuah area sentra pengembangan teknologi dimana banyak lembaga, baik pemerintah maupun swasta berlokasi seperti layaknya Silicon Valley di Amerika.
Nah… Bercermin dari tidak membaiknya sistem pengelolaan transportasi di Indonesia, dengan belum maksimalnya pembenahan sarana dan pra sarana transportasi publik, sepertinya pemerintah bisa membuat Taiwan sebagai lokasi studi banding dalam upaya mencari model pengelolaan transportasi publik yang baik dan tepat sasaran seperti yang telah diterapkan Taiwan…
Well guys… Untuk saat ini, mungkin hanya sedikit informasi ini yang bisa aku sampaikan… Mudah2an mood menulisku akan semakin baik sehingga untuk beberapa waktu yang akan datang aku bisa mengupdate atau membuat tulisan baru di blog ini tentang pengalamanku selama berada di Taiwan…
So… See you soon guys… ;)
Seh Ukur “Bilqis” dari Bukit Lawang, Butuh Bantuan Kita…

- Bilqis Anindya Passa, bayi penderita atresia bilier, akhirnya meninggal dunia pada Sabtu (10/4/2010) setelah dirawat sekitar dua bulan di RSUP dr Kariadi, Semarang, Jawa Tengah.
Guys… Pernah mendengar nama Bilqis? Mungkin kita masih ingat seorang bayi perempuan bernama lengkap Bilqis Anindya Passa, balita penderita atresia bilier yang akhirnya meninggal dunia, setelah dirawat intensif selama sekitar dua bulan di RSUP dr. Kariadi Semarang.
Well, kali ini aku ingin menyampaikan tentang ditemukannya kasus yang sama dengan Bilqis, yang dialami sebuah keluarga di Kawasan Perumahan Eks-Banjir Bandang Bohorok, Bukit Lawang, Langkat, Sumatera Utara. Bayi perempuan cantik yang bernama Seh Ukur, putri pasangan Sada Kata dan Usman yang baru berusia 10 bulan ini memiliki berat 9,4 kilogram dan tonjolan di perut yang sangat besar. Sangking besarnya, Seh Ukur terlihat sangat kesakitan yang ditunjukkan dengan tangisannya.
Kulit bayi Seh Ukur tampak menghitam dengan bola mata berwarna kekuningan. Karakteristik fisik ini sangat tidak lazim pada bayi normal di usia 10 bulan. Ketika seorang teman mengambil gambar bayi ini di sebuah klinik di kawasan Bukit Lawang yang dikelola oleh Bidan Nerli, mimik wajah bayi Seh Ukur menyiratkan teriakan kecil rasa sakit yang tidak dapat diungkapkan.

Bayi Seh Ukur "bilqis" Bukit Lawang
Bayi Seh Ukur sudah beberapa kali masuk Rumah Sakit di kota Medan, namun karena keterbatasan biaya, orangtua bayi ini, pasangan Sada Kata dan Usman tidak dapat melanjutkan perobatan di Rumah Sakit. Dari data hasil pemeriksaan USG Liver + Spleen + Ginjal + GB. Kesimpulan Radiologis terakhir yang dibuat pada 5 Maret 2010 lalu di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik, Medan Oleh Dr Lubis Syaifudin SpRad. menyatakan bahwa “Hepatosplemonegali, tidak tampak SOL + Dilatasi traktus billier intrahepatik. Kedua ginjal baik, tidak tampak bendungan, batu maupun SOL. Gall blader tidak tervisualisasi.”
Terus terang aku nggak paham apa maksud dari kesimpulan radiologis yang dokumennya aku baca dan lihat langsung, namun yang pasti bayi Seh Ukur telah menderita penyakit ini sejak usia tiga bulan, dan sejak itu pula orangtua bayi Seh Ukur melakukan usaha-usaha pengobatan. Tapi karena keterbatasan biaya, pengobatan akhirnya dihentikan
Saat ini bayi Seh Ukur membutuhkan bantuan dari para dermawan, orang-orang yang mampu mengulurkan tangan untuk memberikan bantuan kepada orangtuanya sehingga bayi Seh Ukur dapat melakukan perawatan yang tepat. Untuk informasi tentang laporan hasil Radiologi Seh Ukur dan dokumen-dokumen pendukung lainnya, Anda dapat melihatnya di link berikut ini:
http://www.flickr.com/photos/19981631@N07/sets/72157624400348405/
Bagi yang berminat membantu bayi tersebut, terutama yang berdomisili di Sumatera Utara bisa langsung datang ke Alamat rumah mereka di Perumahan Bukit Lawang Indah (Eks Banjir Bandang) Blok I No. 3.
Atau jika ada dermawan yang berniat membantu, bantuan bisa dikirimkan melalui rekening :
Yayasan Orangutan Sumatra Lestari,
BNI Syariah Cab, Medan,
NOREK : 009-2757-983.
Update Blog
Guys… Fuih… Finally bisa update blog lagi… Sebelumnya blog ini sempat offline total selama 2 minggu terakhir karena pemindahan server yang dilakukan oleh pihak hyperwebenable. Setelah pemindahan server ternyata blog ini masih tetap offline… Tanya sana, tanya sini sama pihak hyperwebenable, ternyata mereka menonaktifkan blog ini karena sudah hampir 5 bulan tidak ada update… Iya juga sih, berdasarkan ToS ketika aku mendaftarkan diri di program mereka untuk mendapatkan domain dan webhosting gratis, mereka mensyaratkan jumlah visitor harian minimal 200 pengunjung dan jumlah update blog minimal 10 postingan per bulan…
Setelah proses lobi2 via email yang cukup ketat, akhirnya mereka bersedia menghidupkan kembali blog ini dengan syarat aturan dalam ToS mereka harus aku patuhi untuk masa-masa yang akan datang. Harus update minimal 10 postingan per bulan itu yang paling utama. Karena kalo masalah visitor blog ini stabil mendapat kunjungan diatas 200 visitor per hari…
Hm… Memang aku sendiri juga sempat berpikir untuk total mematikan blog ini dan mengalihkannya ke adieska.com secara domain adieska.net ini merupakan milik somebody else… Tapi sayang juga kalo blog yang udah dibangun bertahun-tahun dan udah banyak memberikan penghasilan online kepadaku ini akhirnya tamat… :)
So, mulai sejak postingan ini kayaknya aku bakalan rutin lagi mengupdate blog ini…









































