Caleg PDS No. Urut 3 Dapem 3 DPRD Pematang Siantar
Guys… Aku baru pulang kampung 2 hari ini ke Pematang Siantar. Dapet berita yang agak mencengangkan. Sebenernya dah lama dapet berita ini, tapi aku masih kurang percaya sampai akhirnya aku baca pengumuman yang dikeluarkan KPU Kotamadya Pematang Siantar di Koran terbitan Siantar (Pos Metro Siantar) kemarin. Ya… Ternyata memang benar Caleg No Urut 3 pada Daerah Pemilihan 3 untuk DPRD Pematang Siantar dari Partai Damai Sejahtera (PDS).
Are Your Family Alive or Survive? I Miss U Father…
Guys… Asli bengong dan merenung ketika sekilas dan sepintas lalu membaca “quote” pada sebuah blog berbahasa inggris “Are You Alive or Survive?”. Damn right… Ternyata saat ini aku dan keluargaku belum betul-betul hidup. Kami masih belum bisa menikmati “alive” yang sesungguhnya. Kami masih pada taraf survive alias bertahan hidup…
Menurutku arti kata alive adalah bisa menikmati hidup. Bahasa sederhananya yang dapat dipahami mungkin Serba berkecukupan. Sedangkan aku dan keluargaku saat ini masih belum beranjak dari kondisi survive alias “gali lobang tutup lobang”. Seingatku dulu waktu jaman Diktator Alm. Soeharto sepertinya kami sempat mengalami yang namanya alive (Loh… Apa2an ini???).
Tapi emang kalo mau jujur, kesejahteraan keluargaku dan mungkin sebagian besar masyarakat Indonesia lebih terjamin pada saat Orde Baru masih berkuasa. Ingat… Aku hanya membatasi pada kata kesejahteraan. Kala itu kami masih sempat menikmati yang namanya weekend bersama keluarga. Minimal sekali dalam sebulan setiap akhir pekan, kami pasti “jalan-jalan” ntah kemana. Ada canda, tawa dan kebahagiaan.
Kini atau tepatnya setelah reformasi bergulir sampai dengan saat ini, “harapkanlah” untuk bisa “jalan-jalan”. “Harapkanlah” untuk bisa sekedar tertawa lepas bersama-sama keluarga. Tiap awal bulan atau baru gajian, bukan tampang ceria yang kudapatkan pada wajah Bapak. Wajah tegar dan semakin keriput itu bawaannya lesu dan suntuk terus. Bahkan saat dia tertidur pun sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu. Ya… Sesuatu yang mungkin diidam-idamkannya. Aku hanya bisa menebak-nebak. “Sabar ya Pak… Aku berjanji bahwa pada masa tuamu, kau bisa betul-betul menikmati hidup dan tertawa ceria bersama Mama, kami anak-anakmu dan nantinya juga ada cucu-cucumu”. “Aku akan berjuang untuk kita… Aku ingin membawa kalian berlibur ke Disney Land atau Yerusalem… Hiks… :((”
Sejak empat tahun kebelakang atau tepatnya setelah aku memutuskan mencari kerja sambilan sekedar untuk tambahan “uang jajan” dan memutuskan untuk aktiv di beberapa organ mahasiswa, aku memang jarang pulang kampung dan bersua dengan keluarga. Aku selalu ingat setiap pulang ke rumah, Bapak pasti banyak bercerita tentang filosofi dan nilai-nilai kehidupan, budaya dan agama. Kalau ini yang diceritakannya, aku selalu senang dan bangga memiliki seorang Bapak seperti dia.
Namun kadang-kadang dia juga cerita tentang pekerjaanya. Kalau sudah cerita ini, pasti yang diceritakan nggak jauh dari seputar “korupsi” dan “ketidakadilan” yang dilakukan atasan dan Kadisnya di Kantor. “Aku dan beberapa teman yang cape ngerjain proyek dari A-Z eh… cuma dapat segini… Trus si ini, si itu dan si JS, Kadis Perindag Kota terbesar kedua di Sumatera Utara itu tanpa ada rasa bersalah selalu tega “potong atas”, mengambil bagianku yang cuma secuil… Padahal dah jelas bahwa bagianku nggak seharusnya segini tapi segitu dan itu untuk kiriman bulanan kalian”.
Hiks… Kalo Bapak dah cerita begini, bawaannya pingin nonjok itu Kadis yang bisa dibilang kelakuannya seperti “binatang”. Ya… “Binatang” yang berotak tapi tak bermoral. “Binatang” yang hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa mau tau keadaan bawahannya yang telah banyak membantunya selama ini. Seorang Bapak yang hanya tamatan SMA tapi memiliki skill yang luar biasa dan tidak ada duanya di tempatnya bekerja. Seorang Bapak yang bisa menginjak Negeri Sakura karena prestasinya. Seorang bapak yang telah mengabdikan dirinya kepada negara selama lebih dari setengah umurnya. Seorang Bapak yang gajinya tidak lebih dari 2 juta rupiah yang harus dibagi-baginya kepada seorang istri dan 5 orang anaknya namun ketika dia seharusnya bisa mendapatkan lebih, ternyata dia hanya bisa gigit jari dan harus terus bersabar karena atasannya mengambil haknya. Tidak adil…!!! Pemimpin kurang ajar…!!!
Kalau tidak salah tahun depan mungkin Bapak akan pensiun. Ya… Biarlah dia beristirahat dari pengabdiannya kepada negaranya yang masih kurang menghargai orang-orang berprestasi ini. Pantaslah kondisi negara ini semakin memprihatinkan… Biarlah keletihannya berlalu. Biarlah dia bersantai sejenak pada masa tuanya. Doakan aku dan anak-anakmu yang lain ya Pak… Mudah-mudahan bulan 7 atau paling lama bulan 10 ini aku sudah keluar dari kampus dengan bekal yang cukup sehingga mampu menghadapi dunia yang telah kau hadapi selama ini. Mudah-mudahan mulai tahun 2009 adalah awal dari kebahagiaanmu sampai dengan akhir masa hidupmu.
Mudah-mudahan juga masyarakat Idonesia tidak salah pilih pemimpin lagi. Ingat… Jangan pernah berpikir untuk memilih yang sekarang berkuasa lagi. Mereka sudah gagal. Kalo gagalnya cuma sedikit sih tak apalah… Tapi ini GAGAL TOTAL!!!. Lihat saja semua pejabat birokrasi di negeri ini mulai dari daerah sampai dengan ke pusat. Hanya secuil yang bisa menjabat karena prestasi. Sebagian besar dari mereka menjabat karena “uang” atau “hubungan keluarga”. Yang berprestasi justru lebih sering disingkirkan karena biasanya orang bersih dan tidak mau “kompromi” atau “main mata” dengan ketidakadilan. Semoga ini berakhir!!!
I Miss U Much Brother
I miss you so much brother… We all miss you. Bapa, Mama, Uci, Lena, Dani also miss you… Did you miss us Oka???
It has been 2 years since you left us. You run away from home and decide to left us. We don’t know exactly what’s in your mind at the time. What we know is we have believe in you.
You don’t need to blame your self. I have a black past also. Same as you… Maybe more than what you do. But no need to left away from home.
You should know that it’s not your fault. It’s not our parents fault also. This is what we called destiny. This is God’s way to us.
We don’t know where are you right now brother. I’m so tired to think about you. Can you contact us brother… Please… We just want to know where are you right now. Are you still alive my brother??? *Ooo… GOD*








































