6 Key Ways to Make Money With Email Marketing
This is one of email marketing article on my email marketing directory
1. Identify target ? Identify your target. Like other marketing techniques, email marketing also becomes successful when it is targeted. For productive email marketing, you will need your target audience before you write your emails. Identify a niche for your product or services.
2. Create a targeted Email List ? Next you have to create an email list of the person you will send the emails. This list should only contain people who are your targets. Do not include people who are not in your target market.
Tahu Sama Tahu - Menerapkan Consumer Satisfaction Standard
Kepuasan pelanggan terhadap suatu produk tidaklah sama antara satu pelanggan dengan pelanggan lainnya. Apalagi customer satisfaction hanyalah salah satu elemen dari sekian banyak emotion type of consuming dari pelanggan. Mengukur tingkat kepuasan pelanggan saja tidak cukup untuk dijadikan ukuran business success.
Oleh sebab itu produsen or agent harus memahami emosi pelanggannya secara efektif dan meng-combine faktor rasional dan emosional consument guna merancang marketing strategy.
Berikut ini ada beberapa aspek penting yang perlu dicermati antara lain :
· Condition of the Environment. Lingkungan kantor yang bias membuat konsumen merasa nyaman dan senang berada di dalamnya. Ini mencakup visual factor/design (seperti tata letak perabot kantor, warna cat, kebersihan dan tata ruang/space) dan unsur-unsur non visual/ambient (seperti tata lampu/penerangan, aroma dan suara).
· Training for the Staff. Pengembangan dan pemberdayaan karyawan (terutama staff marketing dan staff costumer service) dalam hal memahami dan menangani berbagai respon emosional pelanggan.
· Complaint Handling System. Sistem penanganan keluhan yang diterapkan harus responsive, empatik, fair and effective.
· Approaching. Komunikasi yang berbeda untuk kategori individu yang berlainan. Pendekatan soft sell (image oriented) ditujukan bagi mereka yang termasuk dalam high-self monitoring individuals, sedangkan pendekatan hard sell (product quality oriented) digunakan untuk menarik minat low-self monitoring individuals.
· Promoting. Menawarkan nilai sosial dan emosional tertentu lewat prestige pricing; ketersediaan yang terbatas; komunikasi pemasaran yang berbasis citra sosial dan berfokus pada asosiasi dengan orang, obyek, atau symbol tertentu; dan penawaran eksklusif yang baru.
· The last is Applying. Penerapan paradigm experiential business dengan berusaha menciptakan kegembiraan (excitement) dan pengalaman multi sensori kepada setiap pelanggan.
Enam aspek di atas akan mampu meningkatkan pelayanan kepada nasabah. Produsen harus beralih strategi untuk mempertahankan pelanggan dari customer service kepada customer care, dimana kepedulian terhadap pelanggan lebih diutamakan melalui pelayanan terbaik yang akan diberikan oleh seluruh petugas, baik dinas luar maupun dinas dalam.
Tahu Sama Tahu - Visi Tanpa Prestasi Adalah Sia-Sia (Example in Insurance Organization)
Visi tanpa perbuatan merupakan day dreamer, sedangkan perbuatan tanpa visi adalah tak ada artinya. Apakah itu hanya sebuah mimpi belaka? Mudah-mudahan tidak, apalagi jika didorong oleh kehendak kuat untuk merealisasikannya, sehingga kita berusaha keras guna mewujudkan mimpi atau visi tersebut.
Begitu kuatnya sang visioner untuk mencapai apa yang diimpikannya maka segala upaya dan aktifitasnya dilakukan secara efektif dan seefisien mungkin.
Benarkah orang-orang atau organisasi yang mempunyai visi jelas lebih mampu meraih sukses dan bertahan lama daripada orang-orang atau organisasi yang tidak memiliki visi yang jelas?
Jika kita pernah mendengar nama terkenal seperti Joe Girrard dari Detroit, an agent or automotive seller yang sukses. Dalam sehari ia mampu menjual rata-rata 6 unit of cars. Can you imagine, pasti ada sesuatu yang mendorongnya sehingga mampu mencapai prestasi yang luar biasa tersebut.
Saya yakin dan percaya bahwa di organisasi-organisasi tempat kita berkarya banyak calon-calon seperti Joe Girrard, apalagi jika visi organisasi kita jelas. Misalnya dalam konteks insurance organization, yakni “Agar every body have an insurance for their life protection”. Yang menjadi persoalan sekarang, sudahkan visi tersebut terbawa dalam mimpi dan membakar semangat kita untuk merealisasikannya? Adakah visi ini telah merasuk sampai tahap emosionil, sehingga our emotion mampu merangsang kehendak kita untuk menutup satu atau dua polis per minggu.
Saya dapat membayangkan dengan jumlah agent/pejabat insurance di Indonesia yang saya perkirakan mencapai 400.000 orang, maka setiap bukan akan ada di atas 1 juta kepala keluarga yang protected in financial if happen suatu musibah.
Marilah kita semua berupaya mewujudkan/merealisasikan vision or our dream dalam perbuatan/aktifitas yang nyata, sehingga organisasi kita akan lebih berkembang pada masa-masa yang akan datang. Semoga!







































