Kukang – (Nycticebus caucang) – Slow Loris

Kukang - Slow Loris
Kukang merupakan hewan primata nocturnal atau yang lebih banyak melakukan aktivitas pada malam hari satu-satunya yang berada di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Mereka adalah primata yang bergerak lambat dan pemalu.
Kukang mengembangkan ibu jarinya untuk bergelantungan di cabang pohon. Genggamannya yang kuat membuat mereka kesulitan untuk berpindah dari antara cabang pohon sehingga pergerakannya menjadi lamban.
Kukang adalah karnivora yang menyukai sejenis serangga, telur burung dan hewan vertebrata kecil. Dengan gerakannya yang tenang dan lambat, mereka dapat merayap untuk menangkap mangsanya dengan satu renggutan kilat.
Kukang dapat menghasilkan toksin (racun) yang dicampur dengan ludahnya, toksin tersebut digunakan sebagai perlindungan untuk melawan musuh. Toksin ini dihasilkan oleh kelenjar di bagian dalam siku mereka. Prosesnya saat jilatan atau hisapan terjadi di dalam mulut maka kelenjar tersebut akan mengirimkan racunnya. Ibu kukang akan menjilat badan anaknya dengan cairan toksin sebelum meninggalkannya untuk mencari makan.
Habitat
Kukang dapat hidup di hutan primer dan sekunder, hutan bambu serta hutan bakau. Kadang-kadang mereka juga ditemukan di daerah perkebunan coklat. Walaupun umumnya hewan ini lebih banyak ditemukan di hutan yang kondisinya masih baik. Di Indonesia, satwa ini tersebar dan dapat ditemukan di Sumatra, Jawa dan Kalimantan.
Perilaku Sosial
Kesenangannya bergelantung menjadikan mereka termasuk hewan arboreal, hewan yang lebih banyak beraktifitas diatas pohon dan jarang turun ke tanah. Kehidupan sosialnya sangat sedikit sekali diketahui oleh berbagai penelitian yang sudah dilakukan. Namun beberapa peneliti menjumpai bahwa hewan mungil ini umumnya hidup sendiri (soliter) atau membentuk pasangan (monogamous).
Masa hamil hewan ini lebih kurang 190 hari. Kukang yang baru lahir akan terus melingkar diperut ayah atau ibunya. Setelah berumur cukup, maka anaknya akan diletakkan di atas cabang pohon saat orang tuanya mencari makan. Jarak kelahiran kukang betina antara 17 – 20 bulan. Primata unik ini dapat bertahan hidup hingga 20 tahun.
Aktivitas Harian
Pada saat bergerak di malam hari, kukang jantan akan menandai dengan air kencingnya pada pohon-pohon yang dilalui untuk menegaskan daerah teritorial atau daerah kekuasaannya.
Mereka aktif pada malam hari (nocturnal) dan hidup di pohon (arboreal). Pada siang hari tidur pada percabangan pohon, atau kadang-kadang di rumpun bambu dan tidak membuat sarang. Cara tidurnya dengan melingkar dan kepalanya tersembunyi di antara kedua kakinya.
Suara
Suara desisan (mendesis) sering dikeluarkan bila merasa terganggu, rutinitas ini dilakukan baik oleh kukang jantan maupun juga betina. Pada bayi, suara ini sedikit perlahan dan terdengar pada saat mereka ingin menyusui. Suara panggilan juga kadang-kadang keluar saat terjadi sesuatu. Pada musim kawin tiba, betina mengeluarkan lengkingan yang cukup keras.
Perburuan liar dan perdagangan illegal
Kehilangan habitat dan perburuan untuk binatang menyebabkan populasi satwa ini terus menurun di alam habitat aslinya.
Berdasarkan monitoring yang dilakukan lembaga ProFauna sejak tahun 2000 hingga 2006, diperkirakan setiap tahunnya ada sekitar 6000 hingga 7000 ekor kukang yang ditangkap dari alam untuk diperdagangkan (profauna.org).
Tahun 2002, IUCN menetapkan status kukang pada level rentan (vulnerable) sehingga harus dilindungi. Kukang telah dilindungi sejak tahun 1973 dengan Keputusan Menteri Pertanian tanggal 14 Pebruari 1973 No. 66/ Kpts /Um/2/1973. Perlindungan ini dipertegas lagi dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999 Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, yang memasukan kukang dalam daftar satwa yang dilindungi.
(Berbagai sumber)
Tanaman Perintis Restorasi Hutan
Penebangan hutan alam untuk digunakan sebagai lahan perkebunan dan pemukiman sudah sangat memprihatinkan. Kerusakan kawasan hutan di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) mencapai 22.000 Ha (di Propinsi Sumatera Utara). Salah satunya akibat perkebunan kelapa sawit.
Restorasi hutan bertujuan untuk mengembalikan keseimbangan ekosistem dan kondisi hutan alam. Tentu sulit mengembalikan kondisi alami hutan di lahan yang telah kritis akibat perkebunan. Oleh karena itu dipilih beberapa bibit tanaman kayu yang cocok ditanam pada lahan kritis.
Beberapa tanaman kayu yang ditanam pada program restorasi TNGL antara lain sungkai, pulai dan bayur. Tanaman ini mudah dan cepat tumbuh pada lahan kritis, memiliki struktur tajuk yang baik sebagai penahan air hujan dan mengembalikan unsur hara tanah yang diperlukan untuk penanaman tanaman asli pada kawasan yang direstorasi.
Sungkai (Peronema canescens)
a. Ciri-Ciri Botani
Sungkai dikenal dengan nama daerah jati seberang atau kisabrang. Perbanyakan tanaman ini dengan biji atau stek. Tinggi pohon mencapai 20–30 m panjang batang bebas cabang mencapai 15 m, dengan diameter 60 cm atau lebih. Bentuk batang sungkai lurus dengan parit kecil, tetapi kadang-kadang bentuk batangnya jelek akibat serangan hama pucuk, kulit luarnya berwarna abu-abu atau sawo muda, beralur dangkal, mengelupas kecil-kecil, dan tipis. Kulit luar penampangnya berwarna kuning, coklat atau merah muda. Rantingnya penuh dengan bulu-bulu.
b. Tempat Tumbuh
Pohon sungkai banyak tersebar di daerah Sumatera Selatan, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Tempat tumbuh di dalam hutan tropis dengan type curah hujan A sampai C, pada tanah kering atau sedikit basah dengan ketinggian sampai 600 m diatas permukaan laut.
c. Manfaat dan Keguanaan
Kayu sungkai dapat digunakan sebagai rangka atap, papan dinding, mebel, ukiran dan kerajinan tangan. Sungkai juga dapat diolah menjadi vinir mewah karena memiliki nilai dekoratif, kulitnya dapat digunakan sebagai dinding lumbung padi. Begitu pula daunnya dapat digunakan sebagai obat sakit gigi dan demam panas.
Pulai (Alstonia sp)
a. Ciri-Ciri Botani
Tinggi pohon bisa mencapai 40-50 m, dengan diameter mencapai 100 cm bahkan bisa lebih. Tumbuhan ini mempunyai banir serta berakar lutut, dengan batang bergalur , berwarna abu-abu sampai ke putih. Permukaan batang halus sampai bersisik, kulit bagian dalam sangat tebal dan halus, mempunyai warna orange sampai kecoklatan, granular, mempunyai getah yang sangat melimpah.
b. Tempat Tumbuh
Pulai ini banyak dijumpai di pulau Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Tumbuhan ini biasanya tersebar di hutan rawa gambut, dengan kondisi tanah berpasir dekat dengan pantai, hutan rawa, serta dekat dengan sungai besar.
c. Manfaat dan Kegunaan
Kayu pulai cocok untuk ukiran, pembuatan peti, dan kayu lapis. Sedangkan getahnya bisa digunakan sebagai obat penyakit kulit dan kulitnya sendiri mengandung alkaloid untuk obat.
Bayur (Pterospermum javanicum)
a. Ciri-Ciri Botani
Pohon berukuran sedang hingga besar, tingginya mencapai 45 m dan berdiameter hingga mencapai 100 -120 cm, permukaan kulit batang halus, bersisik atau bercelah dangkal, berlentisel dan kulit bagian dalam berserabut.
b. Tempat Tumbuh
Tumbuh tersebar di hutan-hutan primer atau di hutan-hutan sekunder dan terutama pada pinggir sungai, pada tanah-tanah aluvial, dan tumbuh pada ketinggian 1400 m dpl.
c. Manfaat dan Kegunaan
Kayu Bayur dapat digunakan sebagai bahan untuk pembuatan kayu lapis, furnitur, perkapalan, jembatan, pulp dan kertas. Daun dan kulit batang yang banyak mengandung tannin dapat berkhasiat mengobati gatal-gatal dan disentri.









































