Terbeban Menulis Tentang Batak
Guys… Sudah lama sebenarnya aku ingin mencoba menindaklanjuti saran yang disampaikan oleh Bg Zalukhu dalam rangkaian Event 100 Review dalam waktu 200 Jam yang lalu. Kebetulan Blog yang dikelola oleh Newbie dimana domain dan hostingnya merupakan hadiah dari hyperwebenable ini juga mendapatkan kehormatan untuk direview pada posisi ke 46. Salah satu saran atau kritik atau apapun namanya yang Bg Zalukhu sampaikan yang bagiku sangat menarik untuk ditindaklanjuti adalah seperti yang tertuang dalam kutipan tulisannya berikut ini:
Namun entah mengapa, beberapa postingan terakhir justru yang banyak diangkat adalah masalah blogging dan bisnis online. Kategori budaya Batak yang bisa dijadikan ciri khas justru semakin mendapat porsi yang tipis.
Salah satu komentator, yaitu Bg Eko Nurhuda kemudian menanggapi:
Iya, seharusnya kalau Adieska konsisten mengangkat budaya Batak dalam blognya, maka akan lebih mudah baginya untuk menyeruak dari kerumunan dan dikenal secara lebih spesifik. Boleh dibilang, itulah ciri khasnya. Tapi harus diakui, kalau dia hanya menuliskan melulu tentang budaya Batak rasanya koq hanya sedikit yang suka. Sudah begitu, duitnya bisa jadi gak ada. nah lho!
Terus terang saran yang disampaikan Bg Zalukhu dan dikomentari oleh Bg Ecko itu sering kali kupikirkan. Bukan karena apa-apa, tapi karena memang bangsa kita, bangsa Indonesia mulai menjauh atau mungkin melupakan yang namanya Bhineka Tunggal Ika. Menurutku pribadi, selama ini rasa toleransi kita terhadap yang namanya perbedaan, baik itu perbedaan suku, agama, maupun ras sejak reformasi bergulir bukannya semakin tumbuh, malahan semakin memudar nggak karuan. Banyak orang dan kelompok bukannya berlomba-lomba mempersatukan diri malahan menceraikan diri.
Contoh paling gawat dan fundamental coba kuambil dalam suku atau etnisku sendiri, Batak yang terbagi dari 5 sub etnis, yaitu Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun, Batak PakPak dan Batak Angkola. Kebetulan saat ini aku berdomisili di daerah Padang Bulan, nama sebuah wilayah di Medan yang ditengahnya terdapat kampusku tercinta, Universitas Salah Urus Universitas Sumatera Utara yang mayoritas penduduknya merupakan sub etnis Batak Karo. Telinga yang tidak caplang ini sering kali mendengar perkataan “Kami orang Karo, bukan orang Batak”. Loh kog…?1?
Bahkan Sobat terdekatku di kampus yang sekarang telah menjadi Program Manager di salah satu “LSM Orangutan” tempat kami dulu sama-sama berkreasi pun sering menyatakan hal ini. Saat mendengarkan perkataan2 seperti itu, kadang hati kecilku bersedih. Ya, kenapa kalian malu dibilang orang batak atau kalau mungkin bukan malu, kenapa kalian nggak mau dibilang orang batak dan mau mencoba melarikan diri dari takdir kalian yang sangat jelas merupakan keturunan dari si Raja Batak??? Pernah kami berargumen tentang ini agak panjang. Tapi demi menjaga perasaan kawan, akhirnya aku hanya bisa mengiyakan setiap perkataanya. Toh aku nggak bisa memaksakan kehendakku kepadanya tentang status yang diinginkan olehnya sendiri.
Menurutku salah satu hal yang menyebabkan kondisi ini terjadi mungkin dikarenakan tidak adanya infromasi berupa fakta sejarah yang tertulis dan mudah dipahami oleh orang-orang muda jaman sekarang. Atau kalaupun ada, bahasanya merupakan bahasa daerah atau bahasa yang sulit dimengerti. Keterangan yang ada di Wikipedia tentang Batak pun menurutku sudah agak sesat. Kondisi ini ditambah atau mungkin lebih cocok jika kupakai kata diperparah lagi dengan ketidakpedulian orangtua untuk menjelaskan tentang berbagai hal yang berhubungan dengan adat istiadat dan budaya yang seharusnya menjadi tanggung jawab orangtua untuk diturunkan kepada anak-anaknya.
Beberapa hari yang lalu aku juga mendapatkan komentar dari seorang anak SMP yang bernama Reinhard dan semarga denganku di account FSku. Dia bersama orangtuanya berdomisili di Jakarta. Komentar darinya juga membuatku kembali memikirkan tentang erosi kebudayaan, dalam hal ini budaya batak yang membuat bangsa ini semakin kehilangan ciri khas dimata dunia. Pantas Saja Danau Toba nggak laku lagi untuk dijual. Hehehehe… OOT ya… :p Isi komentar dari Si Reinhard ini adalah:
hy, horass…
heheh!
aku gag tau neh panggil apa sama abang soalna kita sama” pasaribu neyh… heheh!aku tw fs abang dri mamaku yg liat blog abang… heheh! ktnya lucu”…
app yah bang…
Senang juga dapat komentar darinya, tapi arrrghhh… Masak dia nggak tau harus manggil apa dengan orang yang semarga dengannya??? Ini orang Batak apa orang Batak sih??? Buat Mama dan Papanya si Reinhard, pliss dong ah… Sesibuk atau setidakpeduli itukah Kakak dan Abang untuk menerangkan hal-hal yang paling mendasar tentang adat istiadat dan budaya Batak kepada si Reinhard???
Lalu aku membalas komentar dari reinhard dan menyapanya dengan sebutan Ampara/Appara (Sebutan untuk laki-laki yang semarga dan atau seketurunan marga dan memiliki umur yang tidak jauh berbeda dengan kita). Si Reinhard ini pun membalas:
apa itu ‘apara’?
aku maw bljr adat batak tapi gag ngerti”.
Hm… Mendapatkan komentar seperti itu membuatku makin terbeban untuk sedikit membagi waktu untuk membuat tulisan yang secara khusus ditujukan kepada orang-orang muda batak, terutama yang berdomisili di luar Sumatera Utara dan teman-teman blogger lainnya yang ingin tahu sedikit banyaknya tentang adat istiadat dan budaya Batak. Walaupun aku lahir dan menghabisakan masa remaja sampai dengan kelas 2 STM di Jakarta, syukurlah aku bisa memiliki pengetahun yang kurasa cukup dasar namun sangat berharga jika disampaikan kepada orang-orang yang belum tau.
Mudah-mudahan teman-teman tetap berkenan untuk stay tune berkunjung ke blog ini. Sebagai tahap awal, mungkin hanya ini dulu yang bisa aku sampaikan. Kedepannya porsi tentang batak akan coba kutambahkan perlahan-lahan. Kalau ada teman-teman yang lebih tau dan melihat ada yang salah atau kurang tepat dalam tulisanku ini, aku minta maaf karena masih belajar dan mohon dikoreksi. I hope it useful and thanks for read it guys…
Comments
19 Responses to “Terbeban Menulis Tentang Batak”
Leave a Reply




pertamax?
my sub etnis is Karo. tapi kemarin nulis tentang SM Raja karena penasaran. gak pengen dikotak-kotakkan sesama Sumatera Utara, gegege…
mungkin awalnya beban…
tapi resikonya bisa ketagihan, :hihi:
menarik. bagaimana jika ditelaah hal2 apa saja yg bikin orang batak (spt teman2 karo) itu enggan disebut batak. mungkin drsini bisa terkuak penyebab semakin pudarnya adat batak pada generasi kini
jangan2 orang batak sekarang banyak yg menjauhi/melupakan adat krn ada hal2 dlm adat itu sendiri bikin mereka gak nyaman
saya tunggu pembahasannya
salam
Bener juga c lae.
Tapi ada baeknya juga kalo emang lagi ga ada ide ya mau gimana lagi.
Kita disini kan berbagi informasi yang kita ketahui. Ntu ajah. Chayo
:sip:
Masalah orang karo ga mau dbilang orang batak itu sering sy dgr. Malah bkn dr orang yg ga ngerti adat tp seseorang yg dtuakan. Ga ngerti jg knp keukeuh bgt ga mau dsbt orang batak, kl sy sih ga masalah dsbt orang batak asal jgn disebut orang2an:p. Btw sepertinya orang muda batak toba d jkt ini byk yg g ngerti bhs or adat batak, mlh ada tmn sy tinggal d mdn sampe smu tetep ga bs bhs batak.
Tp sy 8 thn meninggalkan mdn msh bs bhs karo kok :) sangkin cintanya sama kampung nama blog sy beganding, nm kpg sy..
si Reinhard masih mending, aku dulu tanpa ba-bi-bu berujung malu
H: Kita sama Sihotang, jadi panggil apa kau sama aku?
N: “Lae”
(..toet-toet-toeeet)
justru kemarin aku dapat materi bagus dari UHN tentang sejarah batak. sebuah buku yang ditulis sebagai literatur kebudayaan untuk negara Perancis *miris juga sih, tapi tetap kubaca*
wah aq gak ngerti belas nieh……..sps2 about batak…
Hmm coba kalau bikin glossary bahasa Batak di blog ini kayanya bagus juga tuh Dies hehehe..
Btw lama juga gw gak mampir nih.. :P
Hallo..
Saya tertarik dengan tulisan ini diiringi rasa kagung dengan Suku Batak.
Karena temen saya cukup banyak yang batak, serta saya pribadi adalah Keturunan China…maka saya mencoba untuk melihat adanya banyak kemiripan antara Suku Batak dan Keturunan China.
1. Sangat Kental dengan Urutan silsilah dan Pangkat Generasi.
2. Punya rasa kebersamaan dan kesukuan yang kuat.
3. Sama-sama berjumlah banyak dan tersebar ke seluruh penjuru dunia.
4. Punya nilai-nilai adat sendiri.
5. Bahkan di Indo, mungkin 2 suku inilah yang masih cukup memegang adat sukunya yang positif ditengah hingar-bingar kehidupan perkotaan zaman sekarang
Sebagai satu propinsi yaitu Sumatera Utara walaupun saya orang Nias, saya kagum melihat mas! Ayo bang semangat, harus ada yang memulai duluan neh
Lama2 kek kepala suku kau pra
@ Goenz: Mantep bro… :D
@ Nita: Wah berat juga neh… Nanti kalo sempat coba kubahas deh mbak :D
@ Otak Kabel: Biar anak2 muda nggak kehilangan kebanggaan atas adat istiadat dan budayanya bro ;)
@ Indah Sitepu: Yup… Bagus deh kalo gitu Kak… :sip:
@ Nich: Wkwkwkwk… Lae aja yang besar2 di Medan kayak gitu ya… :p
Itulah masalahnya lae… Orang luar yang lebih banyak tau tentang adat istiadat dan kebudayaan daripada bangsa sendiri :(
@ ma2nn-smile: Dibaca aja deh om :)
@ El Nino: Wah kalo glossary aku masih nggak punya banyak referensi bro. Iya lama nggak berkunjung. Kemana aja dikau???
@ Yudhi Gejali: Mantep om… :D
@ Paman Gober: Lah kamu orang nias ya bro putra???
@ Sura: Namanya juga usaha bang… :p
Hmm, kayanya artikel ini cocok deh buat dibaca2:
http://www.wikimu.com/news/DisplayNews.aspx?id=7096
wah, iya tu bang. banyak2 nulis batak aja. Saya baru tau kalo batak itu ada 5 etnis, taunya cuma karo ma toba aja tadinya. Temen2 saya kuliah juga ada orang2 batak.
wah…..jadi tergugah juga neh utk review ttg batak..
btw..themesnya ganti yak ??
Hmmm
Istilah Batak sangat2 identik dengan tapanuli/toba hal ini yang membuat istilah ini kurang diterima oleh sub etnis Sumut lainnya.
Sementara masing-masing sub etnis di Sumut ini memang memiliki kharakteristik tersendiri baik dari segi budaya, dan kehidupan sehari2nya.
Kalau analisis saya mengatakan, orang Batak yang lebih dulu mengecap pendidikan ada kemungkinan mereka lebih dulu berinteraksi dengan dunia luar.
Tanpa disengaja mungkin mereka menyeragamkan istilah ini untuk menyebut daerah asal mereka atau sekaligus juga disertai untuk mengikuti penyebutan masyarakat aslinya.
Sehingga lahir lah istilah Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Pakpak, Batak Mandailing dan Batak Toba.
Tetapi ada satu hal yang sebenarnya bisa menguatkan istilah Batak mengikuti nama sub etnis Sumut seperti Karo, Simalungun, Toba/Tapanuli, Pakpak. Yaitu masalah sistem kekerabatan dimana istilahnya yang beda penerapannya pada masing2 sub etnis batak tetap sama. Pada etnis Toba disebut dengan Dalihan Natolu, Karo Rakut si Telu, Simalungun Tolu Sahundulan, Pakpak Daliken Sitelu (kalau tidak salah) Mandailing saya lupa (manusiawi) xiixixixixixi
Jadinya terkesan wajar kalau istilah batak menjadi sebutan untuk lima etnis di Sumut (Toba, Karo, Mandailing, Simalungun, dan Pakpak).
Nah untuk Nias dan Melayu adalah pengecualian, karena memang sedikit berbeda budaya dan kebiasaanya.
Sori kalau ada salah (manusiawi) jiakakakakakakak
Hi Mul, aku sangat tertarik dan surprise membaca postinganmu ini. Nich aku mamanya Raynhard Pasaribu. Dia bukan SMP lho, tapi kls 2 SMK. ( 30 Maret 2008 kemaren dia genap 15 thn ) Awalnya aku liat blogmu ini waktu iseng ngegoogling Blogger Batak, ketemulah aku dgn blogmu yg kebetulan marga Pasaribu. ( wah… aku bangga dong…! Pasaribu gitu lohhhh…. ) Sejak aku temui blogmu, aku gak pernah lupa membukanya kalo di ktr ( tp seminggu terakhir ” error” => ada apa gerangan? ). Lalu “About” kamu aku print dan kutunjukin ke anakku. Eh.. tanpa sepengetahuanku dia add fs kamu, trus dia bilang: Mamah… aku dah add fs nya bang Mul itu”. Aku kaget, oh ya? kamu bilang apa? “ Aku tanya aja bang Mul Pasaribu apa? Oh ya udah, jawabku. Nah, kira2 brp hari lg dia tiba2 nanya aku: Mah, ” appara ” itu apa c? trus aku tanya lg: ada apa emangnya? Itu lho mah.. bang Mul itu bilang aku panggil appara aja, ktnya. Kujawablah seperti yg Mul katakan above. Kalaupun dia nanya kamu Pasaribu apa, karena dia sangat tau mengenai Pasaribu, supaya tau dia hrs panggil apa ( krn hal ini sering kami ajarkan ke dia ). Raynhard anaknya selalu pengen tau tentang Batak, walaupun dia lahir di Jkt. Bahkan marhata Batak pun dia bisa dan mengerti ( walopun agak janggal tentunya) mungkin kata “appara” sangat jarang di dengar. Bahkan kalo Oppungnya telepon,ataupun dtg ke Jkt dia selalu marhata Batak dgn Oppungnya ( Mau gak mau..harus… coz Oppungnya gak bisa bhs Indonesia.. hehehh ) Bahkan kalo main musik di rumah: Yang dia nyanyikan lagu2 Batak tempo “doeloe” lhooo.. (jgn2 Mul masih kalah ama dia kalo nyanyi Batak ) lol….. Lagu favorite nya: “ Adong Huida Sada Bunga” “ Sai Anju Ma Ahu” “Molo Margitar Au Ito” dan banyak lagi lagu batak “jadul “ Suatu hari aku pernah tertawa dengar dia nyanyi lagu: “Nunga Loja Au O Tuhan “ tau gak Mul.. waktu itu dia punya tugas nyuci piring, eh..sambil nyusun piring di nyanyi gini: “ Nunga loja au o Tuhan… na manucci piring on….” ( wakakkkk ) Aku kaget waktu dia minta aku cariin mengenai “surat batak” di internet. Wah… bukankah ini suatu kebanggaan Mul? Btw.. suamiku Pasaribu Gorat ( no 16 ) dari Dolok Sanggul. Aku sendiri ” par Siantar ” sama dengan Mul, tepatnya di Rambung Merah ( Tau gak kau Rambung Merah Mul? ) Ok.. lah ya Mul … selamat berposting ria, tapi jgn sampe ketinggalan kuliahnya, semoga apa yg kau cita2kan bisa terwujud, yg tentunya dapat membahagiakan Amang & Inang di Siantar.( Salam sayang from my son Raynhard Lewis Pasaribu & my daughter Nindya Caroline Pasaribu ) Horas…..
@ Ecko: Hm… Artikel yang om ecko sampaikan ini terus terang makin mengaburkan nih om. Batak itu kalau dirunut2 bahasaya sebenarnya hampir sama. Sama aja kayak dayak… Ada lagi sub etnisnya yang ga semua saling mengerti betul satu bahasa dengan yang lainnya. Contoh yang paling simpel adalah menyebut angka satu. 5 sub etnis batas semuanya menyebut angka satu dengan sebutan sada. Gitu om…
@ Eeng: Nah gini kan enak makin kenal kita budaya2 suku lain yang masih satu bangsa dengan kita. OK bro… Step by step
@ Okta Sihotang: Hm… Iya dong lae… Paling nggak bisa mengenalkan sekilas aja :D
@ Hesek: Ada benernya juga mungkin yang kau sampaikan bro… Emang sih di Indonesia ini batak lebih identik dengan “Pangalang B2″ dan mayoritas batak toba. Mungkin juga gara2 ini Batak Mandailing yang mayoritas muslim nggak mau ngaku batak ya… :D
@ Desy Pardede: Wah… Tengkyu banget kak kalo KK sering buka blog ini. Jadi tersandung aku :P Wah… Gitu ya kak… Mantaplah itu kak… Bagus deh kalo gitu… Ternyata aku salah ya kak… Kalo gitu Raynhard emang betul2 batak dong… Mudah2an bangga ya kita pra jadi orang batak :) Kirim salam buat abang lah Kak Des… Kata mamak dan Bapak, Aku Pasaribu Gorat No. 15 :D Kalo dari adat sih aku lebih diatas abang, tapi kalo dari umur kan enggak :)
Katanya seh orang Batak itu akan PUNAH bentar lagi… bisa dilihat dari bahasa Batak yg mulai tidak diajarkan orang tua kepada anak2nya… ;)
Btw, emang pemilik blog ini wong BATAK toh? :P
dilematis memang ya Tulang …
ingin banget mempertahankan khas batak di blogg, tapi lama2 berat di ongkos juga rasanya ….
tp gpp lah untuk sementara ini, akan aq coba di garis keseharian batak dengan harapan muncul ketertarikan dari yang muda2
oh ya Tulang .., bloggku sekarang dah dikembangkan. pake yang berbayar nih ceritanya. tolong kirimilah tips2 perbloggannya, n klo bisa masukin di blogrollnya lah
http://rapmengkel.com