Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Barisan Sumatera Utara

December 7, 2007 · Posted in Lingkungan · Comment 
Berlokasi kira-kira 6 km sebelum kota Brastagi dari kota medan didapati sebuah desa yang bernama Tongkoh, didesa ini didapati kawasan hutan yang diberi nama Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Barisan. Taman itu punya koleksi binatang, jalan setapak menuju hutan juga tersedia, untuk pengunjung yang ingin meneliti ataupun sekedar melihat tumbuhan hutan, anggrek-anggrek liar, pakis-pakis besar, berbagai tumbuhan kayu liar berselimut lumut dan jamur, beragam jenis kupu-kupu, burung-burung, kera, dan lainnya.

Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Barisan, yang terletak diempat Kabupaten Sumatera Utara, yaitu Deliserdang, Karo, Langkat, dan Simalungun ini, secara geografis berada pada ketinggian 500 – 1.100 meter di atas permukaan laut (dpl) dengan curah hujan 3.000 – 4.000 per tahun. Kawasan hutan ini juga merupakan salah satu objek wisata yang banyak dikunjungi, baik wisatawan lokal maupun mancanegara.

Tahura Bukit Barisan, salah satu kekayaan alam milik Sumatera Utara (Sumut) yang menjadi sumber penghidupan masyarakat yang bernaung di sekitarnya. Sayang, kondisinya kini cukup memprihatinkan. Pencurian humus yang sudah menjadi rahasia umum penyebab kehancuran tersebut. Sebuah hasil investigasi lembaga swadaya masyarakat setempat telah membuktikan adanya pencurian humus besar-besaran.
Pembangunan Tahura ini sebagai upaya konservasi sumber daya alam dan pemanfaatan lingkungan melalui peningkatan fungsi dan peranan hutan. Tahura Bukit Barisan adalah unit pengelolaan yang berintikan kawasan hutan lindung dan kawasan konservasi denga luas seluruhnya 51.600 Ha. Sebagian besar merupakan hutan lindung berupa hutan alam pegunungan yang ditetapkan sejak jaman Belanda, meliputi Hutan Lindung Sibayak I dan Simancik I, Hutan Lindung Sibayak II dan Simancik II serta Hutan Lindung Sinabung.
Taman Hutan Raya Bukit Barisan merupakan THR ketiga di Indonesia yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 48 tahun 1988 tanggal 19 Nopember 1988. Taman Hutan Raya Bukit Barisan adalah merupakan kelompok hutan yang terdiri dari Kawasan Hutan Lindung yang meliputi Sibayak I, Simancik I, Sibayak II, Simancik II dan Sinabung serta kawasan konservasi terdiri dari CA/TW Siboolangit, SM. Langkat Selatan, TWA. Lau Debuk-debuk Bumi Perkemahan Pramuka Sibolangit.
Taman Hutan Raya Bukit Barisan dengan Keppres Nomor : 48/1988 tanggal 29 Nopember 1988 seluas ± 51.600 Ha merupakan kesatuan yang terdiri dari :
Kawasan Hutan Lindung seluas ± 38.273 Ha,
Kawasan Taman Nasional Gunung Leuser ± 13.000 Ha,
Kawasan Bumi Perkemahan Pramuka Sibolangit seluas ± 200 Ha,
Kawasan Cagar Alam Sibolangit seluas ± 120 Ha,
Kawasan Taman Wisata Lau Debuk-debuk seluas ± 7 Ha.

Burung-Burung Unik di Kampus Kehutanan Terpadu (KKT) Aek Nauli

December 5, 2007 · Posted in Lingkungan · Comment 
Mengamati burung adalah suatu hobi yang sangat memikat dan mengesankan. Burung merupakan salah satu sumber daya alam yang bernilai tinggi baik, dari segi ekologis, ilmu pengetahuan, ekonomis, rekreasi dan juga budaya. Secara ekologis burung berfungsi sebagai pengendali hama insekta dan peyerbuk bunga. Bila diinjau dari segi porsi dan keragaman jenis burung, sangat tepat bila dikatakan bahwa burung merupakan pengontrol utama serangga. Dari segi ilmu pengetahuan, kehadiran burung telah menghasilkan banyak teori baru untuk mengungkap fenomena alam, sedangkan secara ekonomi, rekreasi dan budaya, burung mempunyai nilai jual tinggi baik untuk konsumsi ataupun atraksi wisata. Burung merupakan satwa yang sangat dekat dengan manusia dan harus kita lestarikan keragamannya.

KHDTK Aek Nauli, khususnya Kampus Kehutanan Terpadu (KKT) Aek Nauli adalah salah satu habitat burung. Dari hasil pengamatan dijumpai 31 jenis burung, sebahagian dari burung-burung tersebut ada yang menetap di lokasi KKT Aek Nauli dan ada juga yang hanya singgah untuk sementara saja.

Dari 31 jenis burung yang telah diamati, dua diantaranya adalah jenis endemik Sumatera Utara, yaitu Tangkar Uli Sumatera (Dendrocitta occipitalis) dan Tangkur Api (Psipologon pyrolophus). Adapun jenis-jenis burung tersebut adalah sebagai berikut:
1. Kacer – Copsycus saularis
2. Cerocok – Pycnonotus goiaivier
3. Kepodang Kuduk Hitam – Oriolus chinensis
4. Bubut Alang-Alang – Centropus bengalensis
5. Punai Gading – Trenon vernans
6. Tekukur – Streptopelia chinensis
7. Madu Sriganti – Nectarinia jugularis
8. Bondol Perut Putih – Lonchura leucogastra
9. Kacamata – Zosterops palpebrosus
10. Gereja Erasia – Passer montanus
11. Pijantung Kecil – Arachnothera longirostra
12. Srigunting Hitam – Dicrurus macrocercus
13. Kekep – Artamus leucorhynchus
14. Cucak Kutilang – Pycnonotus aurigaster
15. Pelatuk – Reinwartipicus validus
16. Kicuit Batu – Motallica cinerea
17. Gagak Hitam – Corvus enca
18. Cekakak Belukar – Halucon smymensis
19. Uncal kouran – Macropygia ruficeps
20. Tangkar Uli Sumatera – Dendrocitta occipitalis
21. Takur Api – Psipologon pyrolophus
22. Perkutut Jawa – Geopelia striata
23. Layang-Layang Rumah – Delichon dasypus
24. Bondol Haji – Lonchura maja
25. Getik Batu Kelabu – Parus major
26. Elang – Hieraetus sp.
27. Walet – Collocalia sp.
28. Puyuh – Arborophilla sp.
29. Kipasan – Rhipudura sp.
30. Alap-Alap – Falco sp.
31. Perenjak – Prinia sp.

Jenis burung yang menjadi andalan pada habitat burung di lokasi KKT Aek Nauli, diantaranya Kacer, Kepodang dan Srigunting. Jenis ini sangat menarik dan merdu suaranya. Tangkar Uli Sumatra dan Takur Api menjadi andalan karena endemik sumatera. Kemudian burung Madu Sriganti, Cekakak Belukar dan Elang, jenis ini dilindungi berdasarkan Peraturan Perlindungan Binatang Liar No. 266 Tahun 1931. SK Menhut No. 301/KPTS-II/1991 Tanggal 10 Juni 1991 dan PP No. 7 Tahun 1999.

Upaya yang dilakukan dalam rangka konservasi jenis burung-burung diatas adalah dengan pengkayaan dan pembinaan vegetasi yang ada, baik sebagai tanaman pangannya maupun sebagai tempat tinggal yaitu arboretum. Aek Nauli mempunyai arboretum seluas 7,5 hektar. Areal ini dibagi dalam enam kelompok yang dipisahkan oleh areal perkantoran, fasilitas jalan dan kompleks perumahan. Ada 177 jenis vegetasi di lokasi arboretum ini yang mewakili jenis-jenis dominansi dataran tinggi sumatera, terutama jenis-jenis yang sudah sangat langka dijumpai. Keberadaan arboretum ini sangat penting untuk menjamin habitat dari jenis-jenis burung diatas. Selain itu, untuk kepentingan ilmu pengetahuan.

Upaya lain yang tidak kalah pentingnya dalam rangka pelestarian burung-burung kampus ini adalah dengan melakukan pengawasan yang intensif terhadap perburuan di wilayah KHDTK Aek Nauli khususnya dilokasi KKT Aek Nauli. Selain itu juga mengupayakan pemakaian bahan kimia seminimal mungkin untuk perladangan masyarakat dan membatasi pembukaan lahan pada zona inti habitat burung-burung kampus tersebut juga sangat baik untuk menjaga kelstariannya. Sebab keberhasilan melestarikan burung di suatu habitat sangat ditentukan oleh keberhasilan dalam memilih dan menciptakan relung khusus bagi burung-burung itu sendiri.

Sumber: Leaflet yang dikeluarkan oleh BPK Aek Nauli

Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Sialiali Tapanuli Selatan

December 5, 2007 · Posted in Lingkungan · 8 Comments 
Sejarah
Sejarah berdirinya KHDTK Sialiali dimulai pada tahun 1992 ketika Balai Litbang Kehutanan Pematangsiantar (sekarang BPK Aek Nauli) membangun plot penelitian seluas 100 hektar untuk uji jenis dan asal benih pada program pembangunan HTI di Sialiali.

Pada tahun 2004 areal plot penelitian tersebut beserta padang rumput, semak belukar dan kawasan hutan alam yang berada disekitarnya, dilembagakan menjadi Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Sialiali dengan keluarnya Surat Keputusan Menhut No. 77/Menhut-II/2004 Tanggal 10 Maret 2004. Keluarnya SK ini menyatakan bahwa tujuan utama kawasan ini adalah untuk penelitian Silvikultur Hutan Tanaman dengan luas 250 hektar.

Letak dan Aksesibilitas
Areal KHDTK Sialiali terletak pada koordinat 1º08’10,3” – 1º09’18,4” LU dan 99º49’57,9” – 99º51’29,7” BT atau 7 kilometer sebelah barat Desa Sialiali Kecamatan Lubuk Barumun yang berbatasan sebelah timur, barat dan selatan dengan kawasan HTI PT. Sumatera Sylva Lestari dan sebelah utara dengan jalan umum Sangkilon-Sialiali.

Kondisi Biofisik
Areal KHDTK Sialiali terletak pada ketinggian 190-240 mdpl dengan curah hujan rata-rata 2352 mm/tahun (Tipe B), kelembaban udara 18-100% dan temperatur 17-45º C. Pada musim kemarau bertiup angin Fhon yang sangat panas.

Jenis tanah didominasi oleh Podsolik merah kuning dengan kadar pasir tinggi dan pH tanah masam (4,51-5,71). Ketersediaan air tanah cukup rendah dengan menyerap hanya 20% dari curah hujan.

Kondisi Vegetasi
Vegetasi alami terdiri atas padang rumput, semak belukar, dan hutan alam. Padang rumput didominasi oleh Pollinia ciliata yang membentuk savanna dan sering terbakar.

Vegetasi hutan alam lebih dari 35 jenis pohon yang didominasi oleh Shorea leprosula, S. ovalis, Hopea mengarawan, Cinnamomum iners, Podocarpus wallichianus, Eugenia sp. dan Polyathia sp. Pada areal semak belukar atau hutan muda didominasi oleh Rhodamnia cinerca dan Rhodomyrtus tomentosa.

Tanaman Koleksi
Terdapat lebih dari 36 jenis veetasi asli yang terdapat pada hutan alam dan lebih dari 50 jenis eksotik yang dikoleksi dari dalam dan luar negeri.

Selain sebagai tanaman koleksi, pada 12 jenis vegetasi telah dilakukan uji jenis seperti Eucalyptus urophylla, Acacia mangium, A. carassicarpa, Shorea ovata, S. costata, S. leprosula, S. pinanga, S. ovalis, S. selanica, S. platyclados, S. parvifolia, S. barachteolata, S. singkawang, Agathis borneensis, A. loranthifolia, Dryobalanops spp, Swietenia macrophylla, Castanopsis spp, Pinus merkusii (strain Tapanuli, Aceh dan Kerinci), P. caribae, Litsea spp, Hevea braziliensis, Podocarpus neriifolius, Durio spp dan sebagainya.

Potensi Aspek Penelitian
Areal KHDTK Sialiali memiliki berbagai potensi aspek yang bisa diteliti lebih lanjut, diantaranya:
1. Percobaan penanaman berbagai jenis tanaman hutan potensial;
2. Penelitian berbagai aspek pengelolaan hutan alam produksi (pembinaan tegakan tinggal, pengkayaan dan lainnya);
3. Potensi tanaman obat dan hasil hutan bukan kayu lainnya;
4. Potensi kayu/sifat dasar kayu andalan setempat;
5. Rehabilitasi padang rumput;
6. Teknis penanggulangan/pencegahan resiko kebakaran;
7. Preservasi hidupan liar (rusa, kancil, burung, gajah dan lain-lain);
8. Kajian sosial dan kelembagaan penggembalaan liar dan perambahan

Permasalahan
Areal KHDTK Sialiali tidak luput dari berbagai permasalahan. Beberapa masalah yang dapat mengancam kelestarian pengelolaan kawasan ini antara lain:
1. Konflik kepemilikan/penguasaan lahan
2. Perambahan dan kebakaran
3. Penambangan liar
4. Perburuan liar
5. Pencurian sarana dan prasarana

Sumber: Leaflet yang dikeluarkan oleh BPK Aek Nauli

« Previous PageNext Page »